November 14th 2009, I got so many texts on my cellie. One of them was from Mom. Mom wished may I pass the exam and enter Gadjah Mada University. This was not because of no reason. She wished like that because she knew I really wanted it, since I was in junior high. I’ve longed for that. And I was seventeen at that day.
November 2010
34 posts
he would be my crush and we could go just about everywhere for a dinner. love him and he never knows that
aw well it happened accidentally and it was like months ago and i bumped him, i dumped him, and i punched his face.

Principessa Grace Kelly (1929-1982)
Menikah dengan Prince Rainier III of Monaco, dan, dari segi politik,telah menyelamatkan kerajaan Monaco dari pengambilalihan Prancis (bila Pangeran Rainier III tidak memiliki keturunan, maka Monaco akan dimiliki Prancis). Grace Kelly, dulunya aktris, memiliki tiga orang anak: Principessa Caroline Louise Marguerite, Prince Albert II, dan Principessa Stephanie Marie. Molto bella!
Tapi bukan ini yang mau aku bahas. Aku mau membahas lagu Grace Kelly dari MIKA pada album Life in a Cartoon Motion.

Momma’s Boy
Entah kapan itu ada sebuah polling mini di twitter, menanyakan apakah oke menjadi momma’s boy? Ha, here is my answer: NO WAY.
Pada dasarnya, manusia butuh disayangi dan menyayangi. Salah satu hubungan sayang itu terbina antara orang tua dan anak. Ibu, dalam hubungan antar orang tua-anak, merupakan sosok yang ‘kentara’ dalam menunjukkan rasa sayangnya. Tidak ada yang salah dengan menjadi anak mami, atau anak papi, karena secara biologis, kata-kata anak mami atau anak papi memang sepenuhnya terbukti. Tetapi, rupanya hal ini berpengaruh dalam masalah sosial lho.
Obezyanka Nol / Обезьянка ноль ♥
Ever think of the people who would die to get education every time you skip the class?
Namanya Lia Febriana. Dia merupakan teman sekelasku saat aku bersekolah di SMA N 5 Purwokerto. Subhanallah puji syukur pada Illahi, Tuhan memberinya otak yang benar-benar cair. Pemikirannya kritis, membuatnya ‘hobi’ bertanya dan aktif berdiskusi. Tulisan tangannya rapi, besar-besar seperti anak SD sih, tapi rapi. Beda dengan milikku yang kecil berantakan dan berjejal-jejalan. Buku-buku tulisnya kami perlakukan seperti kitab, apalagi sebelum ulangan atau ujian; karena benar-benar ampuh. Segala hal yang para guru terangkan disalin kedalam tulisan tangan yang besar dan rapi itu. Dan nilai-nilainya……….sampai mati juga ga bakal bisa nyaingin miliknya. Banyak guru yang terkesan padanya, sehingga nilai-nilainya yang sudah bagus itu terkadang ditambah oleh nilai rasa kasih sayang guru-guru. Ga heran dia jadi peraih ranking 1 paralel IPS.
Namanya Lia, dan dia tinggal di tempat yang jauh. Sebenarnya, dia malas sekolah. Dia tidak memiliki semangat. Baginya, dia bersekolah hanya karena ia wajib bersekolah. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi toh nilai-nilainya membuktikan bahwa ia sangat mampu untuk bersekolah di sekolah kami. Dan guru-guru kami juga tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Saat kelas dua belas, seperti biasa ia juara paralel IPS. Nilai-nilai pada rapotnya…dunia akhirat bagi rapotku. Anak macam dia ini yang bisa bikin bangga ortu karena ngga malu-maluin kalo pembagian rapot. Dan tentu saja, anak macam dia juga yang akan gampang memperoleh kursi saat perguruan tinggi nanti.
Guru BK-ku terkesan dengannya. Ibu guru mendaftarkannya pada PBUTM UGM jurusan Komunikasi 2010. PBUTM adalah Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu. PBUTM secara garis besar hanya memberikan syarat pesertanya berasal dari keluarga kurang atau tidak mampu, dan penyertaan fotokopi rapot. Tanpa tes. Dan dibiayai oleh kampus alias gratis. Jelas, dapat ditebak, dia lolos dari sekian banyak peserta yang mengikuti program tersebut dari seluruh Indonesia. Sudah begitu, yang ia dapatkan adalah Jurusan Komunikasi! Mama sangat ingin aku mengambil Komunikasi UGM.
Pada waktu yang bersamaan, aku juga lolos penjaringan PBS UGM jurusan Ilmu Hubungan Internasional. PBS merupakan Penelusuran Bakat Skolastik, atau juga Penelusuran Bakat Swadana (kalau ga salah ya, coba cek ke www.ugm.ac.id). Sebetulnya sama saja, tetapi perbedaannya dengan PBUTM adalah, PBS mengharuskan pesertanya mengikuti tes tertulis dan tes wawancara. Alhamdulillah dari sekian banyak peserta yang mendaftar (dari sekolahku saja banyak yang ikut) aku lolos. Dan menurutku ini merupakan faktor keberuntungan semata dan doa dari orang-orang yang tulus menyayangiku :) thanks everybody <3
Karena Komunikasi dan Ilmu HI berada pada satu fakultas, yaitu Fisipol, aku berencana untuk nge-kos bareng dia. Mama juga ngedukung, jadi biar segala sesuatunya gampang. Mama paham kok kalo dia bukan dari orang mampu, jadi Mama bersedia membantu. Mama juga aktif di berbagai organisasi sosial nirlaba, dan salah satu organisasi yang diikutinya adalah organisasi yang mendanai pendidikan bagi golongan tidak mampu. Yang Lia butuhkan adalah, biaya hidup untuk tinggal di Jogja.
Setelah tanya sana-tanya sini, Mama (tanpa sepengetahuanku) pergi ke rumah Lia untuk mendiskusikan perihal kuliah kepada orangtuanya. Ibunya ingin Lia melanjutkan pendidikannya, apalagi pendidikan gratis seperti itu. Bapaknya, di lain pihak, tidak setuju dan bersikukuh bahwa Lia tidak akan mengambil pilihan kuliah di UGM itu. Mama (saat itu lagi jam sekolah) menjamin bahwa biaya hidup di Jogja akan ditanggung oleh organisasi yang Mama ikuti. Tapi toh Mama kalah. Itu keputusan mereka. Mama cerita sama aku segala sesuatu yang terjadi di ruang tamu Lia sepulangnya aku dari sekolah.
Hari-hari setelahnya, Lia mengutarakan padaku bahwa dia ingin melakukan pendaftaran ulang. Karena kita Insya Allah berada pada satu fakultas, otomatis jadwal registrasi kita sama. Jadi aku bilang padanya supaya dia ikut bareng saja. Dan dia setuju. Mama tidak bisa lebih senang lagi daripada ini ketika aku bilang Lia mau daftar ulang.
Daftar ulang pun selesai, lalu tibalah ujian nasional. Alhamdulillah angkatan kami 2007-2008 SMA N 5 Purwokerto lulus seratus persen, sebuah prestasi yang membanggakan, karena hanya ada dua SMA yang memiliki tingkat kelulusan 100 % di Purwokerto, SMA N 5 dan SMA N 2. Kini yang kami obrolkan adalah kebaya, perpisahan sekolah, pelepasan, mau booking salon dimana, pakai sanggul model apa, sewa jas dimana…..and stuffs like that. Tapi Lia tidak ada. Maksudku, Lia tidak hadir saat kita ngobrol ngalor ngidul gitu. Dan sayangnya, dia juga tidak hadir saat perpisahan sekolah. Kenapa? Itu yang kami herankan. Mungkin masalah biaya pelepasan? Dia membayar kok. Tapi dia tidak hadir saat pelepasan. Mungkin dia cuma tidak suka hal-hal begituan, bisa jadi kan?
Tapi kita tidak pernah tau, karena kita tidak pernah bertemu lagi sepertinya.
Sebelum aku memulai kehidupan kos di Jogja, aku menerima sebuah pesan singkat di ponsel. Dari Lia. Apa yang ia tulis disitu benar-benar membuatku bersedih. Intinya, ia tidak jadi mengambil pilihan studi itu dan menginginkanku untuk tidak memberitahu guru BK-ku. Rupa-rupanya ia registrasi saat itu hanya untuk menenangkan beliau saja, dan aku, dan juga Mama. Jujur, aku kecewa. Lia ini seperti anak impian Mama saja. Masuk Komunikasi UGM tanpa bayar dan tanpa tes, nilai-nilai luar biasa bagusnya, santun, pintar… Kalau aku pintar, aku akan senang sekali. Aku senang karena aku bisa mendapatkan kursi dengan begitu mudahnya. Aku senang karena aku akan selalu direkomendasikan untuk pengikutsertaan kejuaraan dan sebagainya. Aku senang, karena semua orang yang dekat denganku akan bangga denganku; bahwa aku pintar. Aku juga mungkin tidak akan kuliah di UGM, tapi di Moscow State University. Tapi toh ini realita, dan aku tidak pintar. Sedih rasanya melihat orang pintar membuang kesempatan melanjutkan studi hanya karena sebuah masalah material. Apa yang telah ia utarakan tidak hanya membuat sedih aku, tetapi juga teman-temanku. Miris mengetahui anak secemerlang ia melepaskan sebuah peluang emas dengan pasrah, peluang yang kita tahu mustahil bagi kita untuk memperolehnya.
Kemiskinan ada bukan karena permohonan kita. Kemiskinan ada dikarenakan adanya gap yang sengaja diciptakan oleh mereka-mereka yang berkepentingan. Bila kita mau, mungkin tidak akan ada intimidasi atas dasar kemampuan ekonomi, karena seluruh aspek telah terangkum didalamnya mereka-mereka yang tidak mampu. Dengan populasi banyaknya orang kaya yang tinggal di Indonesia, orang miskin seharusnya dapat hidup bahagia dengan fasilitas yang meskipun seadanya tetapi menunjang hidup mereka. Orang-orang kaya yang memiliki kepentingan ekstra-lah yang menjadikan segala sesuatu lebih rumit; prosedur -prosedur memperoleh fasilitas bagi mereka pun dipersusah. Inilah yang membuat rakyat miskin di Indonesia terintimidasi. Walaupun Lia telah mendapatkan pendidikan gratis, orang tuanya pun tetap harus memikirkan biaya hidupnya di Jogja, biaya pendidikan adik-adiknya, biaya makan….dan biaya-biaya lainnya. Mama berkata, mungkin menurut bapaknya lebih baik Lia bekerja daripada belajar, karena tanggungan hidup makin ke depan makin berat.
Lia, ini bukan salahmu, bukan pula salah orang tuamu. Ini bukan salah siapa-siapa. Manusia-manusia di negeri ini rupanya telah dikuasai tikus-tikus berpikiran licik, yang lebih mementingan Trip to Greece daripada menjenguk korban Merapi. Mereka-mereka yang menginginkan adanya spa di ‘kantor’ mereka. Mereka-mereka yang membuat UANG menjadi inti pokok suatu masalah; uang pajak, uang rakyat, uang suap, uang haram, dan uang-uang lainnya. Tikus-tikus itu tidak hanya licik tapi juga lalim dan dzalim. Coba pikirkan, ada berapa banyak orang miskin yang tidak mendapatkan perawatan kesehatan, padahal mereka berhak? Berapa banyak dari mereka yang tidak bisa membaca dan menulis? Berapa banyak dari mereka yang makan satu kali sehari? Satu jawaban untuk tiga buah pertanyaan tersebut; banyak. Tidak heran banyak orang miskin mati cepat di negeri ini. Orang miskin dilarang keras untuk sakit. Yang sekolah harus kaya. Mau makan harus punya uang. Padahal mereka-mereka yang mampu juga membayar pajak, membayar zakat. Tapi kemana aliran uangnya? Perputaran uang ternyata didominasi oleh tikus-tikus berkepentingan itu tadi. Uang pajak dikemplang, pejabat hukum terima uang suap, uang haram khas zaman Orba…. Rasa-rasanya salah bila disebutkan bahwa manusia adalah hewan sosial. Filsuf tersebut belum menyadari bahwa pada akhirnya manusia akan berkembang biak menjadi hewan uang. Atas nama uang, pekerjaan kotor terselesaikan.
Suatu hari, aku melihat namaku tertulis di sebuah papan pengumuman, perihal dosen wali. Senangnya hatiku mengetahui bahwa dosen waliku adalah Prof. Dr. Jahja Muhaimin. Wah luar biasa. Bisa nih bangga ke mama. Berniat ke kantin, aku lanjutkan berjalan. Aku melewati departemen Komunikasi. Beberapa kertas tertempel di sana, perihal dosen wali juga. Dan aku melihat namamu tertulis disana, Lia. Aku memang tak ingat siapa dosen walimu. Ketika aku lihat namamu, Lia, percayalah, aku benar-benar menginginkan kau berada di sana. Aku hanya ingin memastikan bahwa Lia Febriana bukanlah nama seorang gadis yang kini menjaga toko tekstil kecil di depan pasar. Percayalah, Lia, aku ingin kau mengampil pilihan emas itu. Tapi kusadari, ini hidupmu, dan kamu berhak atas hal itu. Ketika aku lihat namamu tertulis disana, Lia, hal terakhir yang kulakukan adalah mendoakanmu, semoga seluruh kerja kerasmu terbalas suatu hari nanti, semoga kamu tidak akan pernah menyesal akan pilihanmu. Ketika kulihat namamu disana, sekali lagi dengan geram aku ingin, perbuatan-perbuatan mereka juga terbalas.
Bersyukurlah kalian yang berkuliah, orang tua kalian mampu untuk mewujudkan impian kalian. Bersyukurlah dengan belajar giat, ingatlah bahwa banyak orang yang rela melakukan apapun demi mendapatkan pendidikan yang layak.
thankyou :) hope that works for me :)
Ever think of paralyzed people when you walk or move?
Ever think of the person with deformities when you say you hate how you look?
Ever think about the people who would die to get a college education every time you skip class?
Ever think of the children getting abused &/or raped whenever you say “I hate my life” ?
Ever think about the starving children dying everyday when you throw away your food?” —Perwana
- He : hey whutchu doing?
- Me : oh i'm fine. I just got 2 stitches at my head and i'm enough baldy right now
- He : mind to the rock concert?
- Me : are you fucking kidding me? With this pretty baldy head..???
- He : Well at least you have something in common with the vocalist
- Me : *(&@#$%! you drive me mad, man!
We don’t care if you talk to other guys. We don’t care if you’re friends with other guys. But when you’re sitting next to us, and some random guy walks into the room and you jump up and tackle him, without even introducing us, yeah, it pisses us off. It doesn’t help if you sit there and talk to him for ten minutes without even acknowledging the fact that we’re still there.